

Allah Menjawab Doaku Setelah 16 Tahun, dan Membawaku Kembali Umrah Bersama Orangtua

2014, Di depan Multazam. Aku pernah memanjatkan doa bahwa aku akan kembali lagi bersama keluargaku ke Baitullah. Tahun demi tahun menjadi sebuah penantian yang selalu aku impikan.
16 tahun berlalu. Allah ternyata menjawab doaku.
Pertengahan Februari 2026. Aku dan kedua orang tuaku kembali menjawab panggilannya untuk berkunjung ke Baitullah. Ini seperti sebuah hadiah besar bagiku setelah berkali-kali Allah tempa dengan berbagai keadaan hidup.
16 Tahun Berlalu, dan Kami Kembali
Tidak ada yang pernah menyangka pada akhirnya aku bisa kembali ke Baitullah hanya bersama orang tuaku. Seperti sebuah mimpi.
Rencana awal dari perjalanan umrah ini dimulai dari kakak perempuanku. Dia berencana pengin umrah bersama suaminya dan mengajakku. Mendengar hal itu orang tuaku ternyata juga mau ikutan.
Kami berencana untuk berangkat berlima dan kakakku ternyata sudah punya rencana untuk kali ini umrahnya mau plus Turki saja dan ini akan jadi perjalanan kami pertama umrah dan tujuan negara lain.
Manusia hanya berencana dan Allah juga yang menentukan. Dari rencana pergi berlima, pada akhirnya kami hanya pergi bertiga: aku dan kedua orangtua Berkali-kali, aku dan kakakku berusaha mencocokkan jadwal bersama, tapi tidak juga menemukan titik tengah.
Keputusannya sudah bulat, aku dan orang tuaku memutuskan untuk pergi umrah di pertengahan Ramadhan. Ini sebuah keputusan yang tidak mudah karena saat Ramadhan, suasananya lebih ramai dari hari biasanya.
Kalau 16 tahun lalu, kondisi orang tuaku masih dibilang prima. Mami masih bisa berjalan jauh dan papi juga masih belum setua sekarang. Sekarang, ada banyak perubahan terutama untuk Mami dan Papi.
Mami di usianya yang masuk 63 tahun, mulai tidak leluasa untuk berjalan jauh dan ini nanti bakal jadi tantangan tersendiri buatku nanti, sedangkan papi yang usianya masuk 70-an juga tidak sebugar 16 tahun.
Sebulan sebelum keberangkatan. Aku sudah berdoa sama Allah untuk dimudahkan segalanya untuk rencana beribadah kami bertiga ini.
Perjalanan Umrah Pertama Bersama Orangtua Setelah 16 Tahun

Karena kondisi Mami dan Papi yang tidak lagi sama seperti 16 tahun lalu. Persiapan umrah kali ini lebih detail terutama barang-barang yang nantinya akan dibawa kedua orang tuaku supaya nyaman selama di sana.
Kepada pihak travel, kami juga sudah menyampaikan kondisi mami dan diriku sendiri yang punya masalah kesehatan. Saya juga membuat permintaan khusus kepada pihak travel supaya nanti selama perjalanan di bandara Indonesia maupun Jeddah. Mami membutuhkan fasilitas kursi dorong dan tidak lupa kami sendiri juga membawa kursi dorong travel dari Indonesia untuk mempermudah mobilitas mami selama di sana.
Seminggu sebelum berangkat, aku juga melakukan kontrol ke dokter jantungku untuk memastikan kondisi tubuhku prima untuk melakukan perjalanan jauh. Dokter jantungku menyarankan kami untuk menambah vaksinasi Influenza supaya memberikan perlindungan ganda selama di sana.
Segala dokumen sudah siap dan Alhamdulillah tidak ada kendala dan kami siap untuk berangkat.
Kalau biasanya setiap pergi umrah selalu di musim panas, kali ini kami sengaja memilih musim dingin. Katanya di pertengahan Februari, suhunya mulai nyaman untuk beribadah.
Rasanya nggak sabar.
Perjalanan Menuju Baitullah

Kapan terakhir kali naik pesawat? Ya sepertinya 16 tahun. Selama itu, kami tidak pernah bepergian menggunakan pesawat, biasanya hanya naik mobil ke mana pun.
Hari itu, kami berangkat sesudah sholat subuh menuju bandara Juanda, Diantar kakakku dan suaminya. Sebenarnya, kedua kakakku cukup khawatir dengan kepergian kami kali ini, tapi saat itu aku yakin bisa mengatasinya.
Perjalanan dimulai dari bandara Juanda menuju Jakarta. Alhamdulillah semua lancar hingga kami mendarat. Pertama kali menginjakkan kaki di Soekarno Hatta setelah 16 tahun itu rasanya menakjubkan. Bandaranya jadi makin luas dan banyak sekali perubahan.
Sayangnya, aku tidak banyak mengambil foto atau video karena terlalu sibuk mengawasi mami dan papi. Kali ini aku harus sedikit menekan egoku karena aku harus menjaga kedua orang tuaku.
Semuanya berjalan lancar sampai Pesawat kami lepas landas menuju Arab Saudi.
Makkah dan Madinah yang Aku Rindukan
Pertama kali mendengar pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat membuat hatiku menghangat. Sesuatu yang kuinginkan sudah lama akhirnya terkabulkan.
Kupikir doaku di depan Multazam waktu itu akan dikabulkan dengan cepat. Nyatanya, butuh waktu 16 tahun dan itu seperti hadiah besar yang aku tunggu-tunggu.
Turun dari pesawat, melihat wajah-wajah kru pesawat yang berwajah Arab sudah membuatku bahagia. Aku turun dan berjalan dengan cepat mengikuti petugas yang mendorong mami. Aku harus cekatan dan aku bersyukur selama ini aku melatih diriku untuk berolahraga dan ternyata ada gunanya.
Melewatinya antrian imigrasi yang hari itu lancar dan ketika petugas bilang ‘welcome to Saudi Arabia’ rasanya berbunga-bunga. Sebentar lagi aku akan memasuki kota Makkah. Sebuah perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.
Sebenarnya kami sudah masuk kota Makkah sekitar jam 8 malam, tapi karena bulan Ramadhan, untuk masuk ke area masjidil haram ditutup untuk sholat isya dan tarawih. Akses baru dibuka jam 12 malam. Kami menunggu di pinggir jalan dalam bis selama 4 jam.
Badan yang lengket dan perjalanan yang panjang. Rasanya melelahkan. Alhamdulillah kami bertiga lancar melakukan ibadah Umrah Wajib sekitar jam 1 malam dan selesai menjelang jam 4 pagi.
Berhubung kami umrah saat Ramadhan, keadaan di dalam Masjidil Haram sangatlah ramai dan hal inilah yang sangat saya rindukan selama bertahun-tahun. 4 kali berkunjung ke sini, selalu ada hal-hal yang menghangatkan hati.
Setelah 16 tahun kembali, rasanya banyak perubahan yang bisa aku rasakan di sini. Bangunan-bangunan hotel yang semakin banyak dan gedung-gedung tinggi yang indah, perluasan area masjid yang semakin lebar.
Seperti biasa, area Makkah tidak pernah tidur, selalu ramai sepanjang hari. Apalagi ini Ramadhan, orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu di masjid. Hal inilah yang nanti aku rindukan ketika sudah pulang ke Indonesia.
Selama 5 hari di Makkah rasanya luar biasa. Sayangnya, di sini saya nggak bisa pergi ke masjidil haram selama 5 waktu karena bertepatan itu Mami sakit beberapa hari dan aku harus menjaganya. Alhamdulillah Allah kasih kesempatan buat kami untuk bisa melihat Ka’bah setelah beberapa hari berikutnya.
Bahagianya, aku dikasih kesempatan untuk menyentuh Ka’bah dengan perjuangan yang sangat mengharukan. Nanti aku ceritakan lebih detail tentang pengalaman selama di makkah di postingan yang lain.
Di Madinah, suhu udara yang lebih dingin membuat kami kami harus memakai baju tiga lapis untuk pergi ke masjid di pagi hari. Siang hari, suhu lebih hangat tapi tetap berangin. Namun, tetap nyaman untuk beribadah.
Letak hotel kami yang tidak terlalu jauh, membuatku selalu bisa membawa Mami sholat di Masjid Nabawi dengan kursi rodanya. Mendorong kursi roda ternyata nggak mudah buatku yang mungil ini.
Perjalanan Umrah yang Tidak terlupakan
Buatku perjalanan umrah kali ini terasa beda dengan umrah sebelumnya. Kondisi orang tua yang berbeda dari 16 tahun lalu membuatku sadar bahwa dalam perjalanan kali ini akulah yang menjaga mereka.
Satu momen indah buatku ketika papi yang tidak lagi gagah tetap menjagaku saat aku menyentuh ka’bah dengan tubuhnya yang menua.
Terima kasih Allah, hadiahMu sungguh tidak ternilai
Baca juga:


