Cerita Teman Perjalanan

Kamis, 30 Januari 2020

cerita teman perjalanan, three people, in the beach



Kriteria Teman Perjalanan



Bepergian sendiri memang menyenangkan, saya jadi bebas ingin menentukan kemana kaki ini melangkah, sekehendak hati atau bahkan pergi berlama-lama di suatu tempat hanya untuk mengeksplorasi tanpa ada yang ditunggu. Nggak perlu drama, karena salah satu sibuk berbelanja dan saya tidak bisa mengimbanginya.

Saya memang jarang bepergian sendiri, kebanyakan pergi bersama keluarga atau hanya bertiga dengan Mami dan Papi. Saat bepergian bersama, saya biasanya sering mendapatkan tugas sebagai tukang dokumentasi. Sibuk memotret orang lain, sehingga kadang tidak bisa menikmati perjalanan dengan maksimal. Itu yang kadang membuat saya kesal setengah mati.

Kadang saya berkhayal, pengin punya teman perjalanan yang mengasyikkan. Sehingga bisa menikmati liburan yang menyenangkan. Dalam artian di sini semua orang bahagia saat jalan bareng sehingga sehabis liburan aura senang itu masih menguar. Bukankah itu tujuan dari jalan-jalan, kan?

Lantas seperti apa teman perjalanan yang asyik itu menurut saya?


Mau Diajak Ekplorasi


Berhubung saya suka eksplorasi tentu saya mau patner yang tahan diajak berkeliling di satu lokasi. Bukan yang buru-buru pergi setelah dia mendapatkan foto bagus untuknya lantas memaksa orang lain pindah lokasi.

Big no.

Seirama


Teman travelling yang menyenangkan menurut saya itu harus seirama, di sini maksudnya sebisa mungkin mereka mempunyai satu kesamaan misalnya suka foto, suka belanja dll.

Kenapa begitu?

Dengan memiliki kesamaan, kita jadi semakin mudah untuk menyusun rencana perjalanan sehingga semua orang bisa merasakan bahagia saat liburan serta mengurangi kecenderungan untuk saling bertengkar.


Bisa Motret


Beberapa kali saya jalan selalu dapat teman perjalanan yang kurang mengerti tentang fotografi. Bukannya bisa menghasilkan foto perjalanan yang apik untuk diri sendiri, saya malah disibukkan untuk mengambil gambar dia.

Giliran saya meminta bantuan, eh hasilnya malah jauh dengan apa yang dibayangkan. Terpaksa saya hanya bisa memotret pemandangan saja daripada tidak menghasilkan konten sama sekali.

Setidaknya memiliki kemampuan dasar memotret itu perlu sehingga kalau lagi jalan bersama bisa saling bergantian sehingga semuanya sehabis liburan bahagia karena banyak stok foto.

Memahami Kondisi Teman Lainnya

Pernah nggak kamu pergi sama seseorang yang mementingkan dirinya sendiri?

Saya pernah dong.

Teman saya ini kalau sudah jalan kadang ngeluyur saja. Dia lupa kalau lagi jalan sama saya. Jalannya cepat dan saya nggak bisa mengimbangi. Alhasil saya menunggu dia di tempat makan saja daripada pingsan.

Cerita yang berbeda, suatu hari jalan sama teman yang suka banget nakut-nakutin, sok tegas gitu. Ketika kita lagi asyik pilih-pilih sudah diancam jangan sampai telat ya. Giliran dia asyik belanja, saya disuruh nunggu berjam-jam. Sudah gitu santai aja datangnya. Pengin ditimpuk pakai koper.

Buat saya memahami kondisi orang lain ketika jalan bersama itu penting karena kita jalannya sama manusia bukan sama koper yang nggak punya perasaan.

Jalan sama orang lain itu memang memiliki dinamika yang berbeda, bersiap-siaplah menghadapi kondisi yang tidak ‘asyik.’ Jika kamu tidak mau terjebak dalam situasi perjalanan yang tidak menyenangkan bersama teman. Mungkin solo travelling adalah pilihan yang tepat.

Posting Komentar