Rabu, 11 Oktober 2017

Gadis Penyuka Hujan

Photo by David Marcu on Unsplash

Dari semua musim yang ada di Indonesia, musim hujan adalah favoritku.

Langit muram, aroma tanah basah dan genangan air sehabis hujan itu seperti sebuah kesenangan tersendiri bagiku. Ya, mungkin sebagian orang akan menganggapku aneh karena suka dengan genangan air. Entahlah, ada yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Dan, aku menyukainya.

Eit, bahkan dalam agama Islam, turunnya hujan itu sebagai perwujudan dari rizki. Saat hujan turun, Malakait Mikail akan turun serta menyampaikan rizki. Nggak percaya? Lihat saja tumbuhan akan semakin lebat setelah hujan turun, tanah-tanah menjadi lebih subur dan udara menjadi lebih dingin. Penjual makanan panas dan berkuah laku keras deh. Di sela-sela hujan deras yang mengguyur bumi, ada sebagian orang yang juga mengais rejeki. Lihat saja di depan pintu masuk pusat perbelanjaan, ada saja kerumunan orang yang turut menyewakan payung. Hmm, jadi jangan bilang ya kalau hujan nggak bawa rizki.

Artikel yang terkait dengan hujan: Cerita Tentang Hujan

Sebenarnya bukan hanya aku seorang yang menyukai hujan. Di luaran sana, ada banyak orang yang juga jatuh cinta pada musim hujan. Beberapa para pelaku seni, menjadikan hujan sebagai perwujudan karya seni.

Coba kita ingat-ingat ada berapa banyak judul buku/ide cerita yang terinspirasi oleh hujan. Sebut saja salah satu penulis favoritku yaitu Windry Ramadhina, salah satu novelnya juga berlatar musim hujan di kota London. Tidak hanya itu,  karya terbarunya yang berjudul Angel In The Rain juga berkisah tentang malaikat yang turun bersama hujan.

Tidak hanya Windry yang menggunakan hujan dalam karya-karyanya, beberapa penulis juga banyak yang menggunakan hujan sebagai judul buku atau ide cerita. Itu seperti sebuah bukti bahwa suasana hujan bisa membuat beberapa orang berpikir lebih kreatif.

Artikel terkait: Kiss The Rain

Bicara soal karya seni yang lain, hujan juga turut memberi pengaruh pada karya seni di bidang musik. Banyak musisi yang melahirkan karya berlatar karena hujan, sebut saja Yiruma. Seorang pianis dari Korea menciptakan instrumen yang luar biasa dengan judul Kiss The Rain. Alunan piano yang lembut mengalir dengan indah seakan menciptakan kejaiban bagi yang mendengarnya.

Aku sendiri saksinya.

Aku suka mendengarkan Kiss The Rain ketika turun hujan. Langit yang sendu dan suasana yang sahdu itu sebuah komposisi yang tepat untuk menciptakan karya. Saat otakku buntu tak bisa menghasilkan apa pun, aku lebih suka mendengarkan instrumen musik Kiss The Rain. Seperti keajaiban hujan, instrumen Kiss The Rain seperti sebuah gas yang bila terkena percikan api akan mudah terbakar. Yap, ide-ide itu bermunculan. Aneh sekali ya.

Udara panas yang menyengat belakangan ini membuatku merindukan hujan. Merindukan rintik-rintik hujan berjatuhan di atap rumahku, menyisakan genangan air yang indah di pagi hari. Ah iya, aroma petrichor yang khas itu seperti sebuah candu.

Akankah hujan segera datang membawa kenangan akan kamu?


Salam Hangat,


2 komentar:

  1. So sweet banget mbak... Buat part two dong.. masih menanti bacaan lanjutannya..😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banget. Nanti ya kalau hujannya sudah turun

      Hapus