Selasa, 23 Oktober 2018

I left My Heart In Jogjakarta

stasiun tugu


Dari sekian kota di Indonesia yang pernah saya kunjungi, Jogja memenangkan hati di urutan pertama. Bahkan, kelak saat saya menikah nanti, Jogja adalah tujuan saya untuk berbulan madu. Bukan Bali, seperti kebanyakan pasangan lainnya yang memimpikan honeymoon di Pulau Dewata.

Bukan saya tidak menyukai pemandangan pantai saat bulan madu, hanya saja Bali sudah terlalu mainstream. Saya butuh pemandangan lain dan nuansa yang berbeda dan itu yang saya temukan di Jogjakarta.
Perjalanan pertama saya ke Jogja itu kalau nggak salah ketika Sekolah Menengah Pertama. Kala itu, Mbak Dini, kakak perempuan saya berhasil diterima Universitas Gajah Mada. Sempat terjadi pertentangan antara Papi dan Mami tapi alhamdulillah semua bisa diselesaikan dengan baik. Mbak Dini resmi menjadi salah satu mahasiswi di UGM.

Kami berangkat rombongan ke Jogja menggunakan mobil untuk mengantar Mbak Dini dan tentu dengan beberapa perlengkapannya. Kali pertama ke sana, saya langsung jatuh hati dengan suasana kota Jogja. Selalu ada rindu yang saya siapkan untuk mengunjungi kota Gudeg itu.


Jogja, adalah kota pertama yang saya datangi sendiri tanpa didampingi Ortu. Saat itu saya nggak boleh ikut darmawisata bersama teman-teman sekolah dan sebagai gantinya, Mami menginjinkan saya pergi ke Jogjakarta, mengunjungi Mbak Dini. Ah saya senang sekali karena tiap kali bepergian harus didampingi ortu bahkan untuk sekedar keluar ngemall. Ini kali pertama ortu memberikan kepercayaan pergi menjelajah sendiri.

Saya sudah tidak sabar.

Perjalanan pertama saya sendirian cukup berhasil dengan mulus. Tidak ada permasalahan dan tentunya ortu selalu memonitor saya ada di mana. Saya merasa lega ketika melihat Kakak Ipar menjemput saya di area kedatangan. Perjalanan pertama saya berhasil.

Sejak saat itu, ketika liburan tiba. Jogja menjadi destinasi favorit keluarga terlebih lagi kami memiliki sebuah rumah di sana. Menginap bukan jadi masalah buat kami.

Alasan saya mencintai Jogja adalah suasananya. Entahlah saya tidak bisa menggambarkan lewat kata-kata. Suasana di Jogja itu hangat dan menyenangkan. Banyak lokasi yang bisa dikunjungi meskipun tempatnya sih itu-itu juga. Tetap saja Jogja selalu asyik untuk dikunjungi.

Ada banyak sudut dari kota Jogja yang belum saya telusuri apalagi belakangan Jogja menjadi salah satu tujuan destinasi favorit karena memiliki aneka ragam tempat wisata yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Ada wisata pantai, sejarah, wisata gunung, wisata swafoto, kuliner dan tidak ketinggalan wisata belanja. Mengunjungi daerah kawasan Malioboro dan Bringharjo adalah kegiatan yang menyenangkan.

Hal lain yang saya sukai dari Jogjakarta adalah makanannya. Dulu, kali pertama berkunjung ke Jogja mana suka saya sama Gudeg. Eh, sekarang malah suka rindu sama makanan bernuansa manis itu apalagi sambel treceknya. Duh, bikin ngiler. Harga makanan di Jogja juga cukup terjangkau tapi bukan yang di sekitaran Malioboro yak.

Saat berkunjung ke Jogja beberapa bulan lalu, saya masih takjub beli nasi goreng hanya 10 ribu di sekitaran hotel Amaris yang letaknya dekat sama Galeria Mall. Porsi banyak dengan lauk melimpah, gimana nggak bikin jatuh cinta coba. Wisata kuliner di Jogja tidak membuat kantong jebol


jolie jogja
Salah satu spot foto di Jolie Jogja

Urusan beli pernak-pernik lucu, Jogja juga gudangnya. Biasanya saya suka main ke Mirota Batik untuk cari properti, gelang-gelang atau bros untuk oleh-oleh. Eh ternyata sekarang ada yang namanya Jolie Jogja, semacam tempat fashion tapi juga menjual aneka pernak-pernik lucu dan sayang saat ke sana, saya datang kemalaman. Nggak puas menjelajah.

Saat tahu Mbak Dini akan melanjutkan studinya ke UGM, saya bahagia. Sebab selalu ada alasan untuk bisa mengunjungi Jogja.

Insya Allah kalau jadi, Desember nanti mau ke Jogja lagi karena Mbak Dini mau lihat kondisi rumah sekaligus bersih-bersih untuk persiapan kelanjutan studinya.

Asyik. Jogja...Jogja

2 komentar: