Rabu, 26 April 2017

Kisah Gaji Pertamaku



Kupikir saat lulus kuliah akan dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kayaknya bukan cuman aku saja yang merasa seperti ini. Semua orang yang melanjutkan pendidikan hingga Perguruan Tinggi mempunya harapan yang sama yaitu pekerjaan dengan gaji yang mentereng.

Sayangnya, hidup tak seindah drama korea. Saat kamu sudah lulus kuliah tidak ada jaminan akan segera mendapat pekerjaan. Sekali lagi itu tergantung keberuntunganmu. Ada yang cepat mendapatkan pekerjaan dan sebagian lagi harus mencoba berulang-ulang sampai akhirnya memegang status pengangguran.

Aku salah satunya.

Seusai lulus kuliah aku menganggur. Tak punya tujuan. Entah lesap kemana idealisme yang membara saat kuliah. Aku malas melamar kemana-mana.

Aku mencoba peruntungan untuk mengikuti ujian masuk S2, namun nasib lagi-lagi memilih jalan yang lain. Aku gagal hingga kedua kali. Kesel tapi mau gimana lagi. S2 bukan jalan hidupku.

Agar tak terlihat menyedihkan. Ibu memasukkanku ke lembaga kursus bahasa Inggris. Kata Ibu, hitung-hitung untuk memperbaruli kemampuan bahasa Inggris. Kursus selama 2 tahun membuatku lebih percaya diri.

Seakan mengerti doaku. Allah mengirimkan sebuah pekerjaan. Lewat salah satu sanak famili akhirnya aku resmi bekerja. Sebagai Guru TK.

Jangan pernah deh kamu bayangkan kalau gaji seorang Guru itu besar. Sertifikasi dan segala macam tunjangan dari pemerintah harus diperjuangkan dengan susah payah.

Aku ingat saat Kepala Yayasan memberiku sebuah amplop. Aku sempat menebak-nebak berapa jumlahnya. Hari itu dengan penuh penasaran aku merobek amplop itu dengan hati-hati. Dan, apa yang kubayangkan tak sesuai kenyataan. Gaji pertamaku senilai Seratus Dua Puluh Lima Ribu Rupiah.

Sempat terbersit rasa kecewa tapai kemudian lekas mengucapkan syukur atas pemberian ini. Aku membeli sebuah tas dengan gaji pertamaku. Rasanya menyenangkan karena pada akhirnya aku punya uang sendiri.

Gajiku mengalami kenaikan setelah 3 tahun bekerja. Itu juga nggak banyak, kalau nggak salah ingat sebesar Dua Ratus Dua Puluh Lima Ribu Rupiah. Kenaikan gaji itu membuatku senang.

Gaji terakhirku sebelum pada akhirnya mengundurkan diri adalah sebesar Enam Ratus Ribu Rupiah dengan masa kerja 6 tahun.

Baca juga: When i'm out of comfort zone and how i deal with it

Mungkin buat kalian nominal gaji itu kecil tapi buatku nilai itu cukup besar. Entah kenapa rasanya cukup banget. Ya, mungkin tidak ada yang bisa mengalahkan logika Matematika Allah. Buatku ketika kita bersyukur, nilai uang sebanyak/sekecil apapun rasanya beda.

Aku pernah mengalami kegamangan saat ingin berhenti bekerja. Terbiasa mempunyai penghasilan tetap tiap bulan membuatku berat untuk meninggalkan pekerjaan ini. Tapi Allah itu adil. DIA menggantikan nominal gaji yang kuperoleh lebih besar daripada saat aku bekerja dulu.

See, jangan takut deh rejekimu akan tertukar dengan orang lain.


Salam,




10 komentar:

  1. Gaji pertamaku dari job review hihihi...lupa-lupa ingat dulu buat apa..

    BalasHapus
  2. Meninggalkan jejak dulu ah...... tapi mosok benar gitu to, Teacher?

    BalasHapus
  3. Bener mba...Nggak akan tertukar ya
    Gaji pertama pas kerja kantoran, buat lanjut s1 hehe... Alhamdulillah skrg udah off...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Alhamdulillah penting berkah dan halal

      Hapus
  4. Meski jumlahnya tak seberapa, gaji pertama selalu indah terasa ya hihihii.. Sama banget, dulu selepas kuliah dapet kerjaan ya gajinya buat makan sebulan aja kurang. Alhamdulillah, pengalaman awal bekerja itu bisa menjadi pijakan ke pekerjaan2 selanjutnya yg lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget mbak unniek. Pengalaman dengan gaji pertama itu indah

      Hapus
  5. Gaji pertamaku itu berapa ya 600 ribu deh kayaknya
    17 tahun lalu, jumlah itu lumayan besar lah ya
    Ku berikan ke ibu, sisanya buat beli HP, siemens warna putih

    BalasHapus
  6. Hm, gaji pertama banget ya cuma hitungan puluhan ribu, itu pun freelance desain. Tapi kalau di kantor beneran, hmm.. standart UMK. Kecil sebenernya dibanding teman lain di perusahaan lain. Tapi... aku merasa itu cukup. Tergantung gaya hidup juga sih hihi... makin naik gajinya, gaya hidupnya ikutan naik wkwk.. antara bagus dan kalau ga direm bisa kurang bagus buat masa depan hehehe

    BalasHapus