Jumat, 15 Desember 2017

I'm Thankful For Being Me


Satu hal yang aku syukuri hingga saat ini adalah Allah memberikanku hati yang kuat. 

"Mbak, pernah nggak sih merasa bersyukur karena dilahirkan sebagai seorang swastikha?"

Itu pertanyaan yang dilontarkan Wulan saat kami membahas soal pengalaman hidup. Mimpi apa ya semalam, kok bisa-bisanya kami membahas obrolan yang begitu serius. Padahal biasanya chat kami ini nggak jauh-jauh dari urusan meratapi masa lajang, film dan memilih buku.

Tulisan kolaborasi Wulan bisa kalian baca di sini:

Terus terang saya cukup kaget mendengar pertanyaan ini, bahkan terlintas dalam benak saya pun tidak. Pertanyaan ini membuat saya merenung dan menyadari bahwa selama 33 tahun perjalanan hidup, saya tidak pernah melihat apa yang istimewa dari kelahiran seorang Swastikha ini?

Percaya deh, mencari kelebihan dan kekurangan diri sendiri itu susahnya minta ampun. Sama susahnya dengan mengurai benang yang udah kusut. Saya jadi teringat saat kuliah perdana sebagai mahasiswa Psikologi, ketika dosen saya meminta semua mahasiswa untuk melakukan analisa SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats)  terhadap diri sendiri. Hari itu kami dibuat pusing tujuh keliling, tiga puluh menit waktu yang diberikan dosen terasa sebentar. Saya bisa menyelesaikannya walaupun tidak maksimal. Dari situ saya tahu bahwa menganalisa diri sendiri itu bukanlah hal yang mudah.

Kamis, 07 Desember 2017

Tiga Puluh Tiga Tahun

swastikha.com


Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya merayakan hari ulang tahun dengan menulis sebuah postingan di blog. Bagi saya tulisan tentang ulang tahun itu seperti sebuah rekaman tentang apa yang terjadi pada saya setiap tahunnya dan menjadi sebuah evaluasi terhadap diri sendiri. Yang membuatnya berbeda tahun ini adalah saya memilih menuliskannya dalam blog kedua saya. Alasannya karena swastikha.com lebih ke arah tulisan personal.

Cerita lain tentang saya: My Hijab Story: Sebuah Janji di Masa Kecil

Ah, rasanya baru kemarin saya menuliskan Welcome to Thirty Club  di linimasa Facebook. Ternyata sekarang angka itu udah bergeser tiga tahun membentuk angka yang cantik yaitu 33. Kalau kata orang sudah bukan usia imut lagi hehe. 
Selasa, 05 Desember 2017

Berburu Batik Pamekasan Di Kios Batik Pasar 17 Agustus Pamekasan

Berburu Batik Pamekasan Di Kios batik pasar 17 agustus pamekasan


Selain berwisata kuliner dan bercengkrama dengan sanak famili, salah satu kegiatan favorit keluarga kami adalah berburu kain batik khas pamekasan. Sebenarnya yang paling semangat dalam urusan memborong kain batik adalah Mami dan Kakak Perempuan. Setiap kali pulang ke Pamekasan membeli kain batik selalu menjadi agenda wajib. 


Mami sendiri adalah salah satu penggemar batik. Hampir setiap kali kami bepergian ke suatu daerah, Mami selalu menyempatkan mampir ke sentra penjualan batik/kain khas daerah tersebut. Padahal koleksi kain/baju batik Mami sendiri udah banyak tapi ya tetap aja selalu ada tempat untuk menyimpan kain batik. Kata Mami mengoleksi kain batik juga turut andil menjaga warisan budaya leluhur. Ngeles banget yak, padahal mah emang suka belanja.